Menghilangkan Ketakutan Menulis

Jadi ceritanya saya mulai senang dengan dunia menulis adalah saat kuliah. Namun bukan kampus yang mengenalkan saya dengan dunia ini, melainkan teman-teman organisasi mahasiswa yang memang setiap hari akrab dengan literasi.

Sebelum itu, saya hanya mengisi otak dengan pelajaran-pelajaran yang diberikan guru di sekolah. Seolah belum menemukan cara belajar lain selain menunggu dan tekun mempelajari apa yang dipaparkan guru. Begitu menyukai aktivitas menulis, perlahan saya merasa sedang memproduksi pengetahuan secara mandiri. Tidak lagi bergantung, tapi berbuat.

Masa transisi dari konsumtif ke produktif ini benar-benar terasa nikmat. Dan alhamdulillah tulisan saya dianggap bagus oleh teman-teman waktu itu. Tidak semua memang, tapi kebanyakan bilang begitu. Dan pernah dua kali artikel saya diterbitkan koran lokal – sebuah kebanggaaan yang tak terkira.

Nah, apakah ketika sudah merasakan nikmat menulis (waktu itu) saya tidak merasa takut sama sekali? Tentu saja tidak. Rasa takut adalah teman sejati saat mengetik kata demi kata di laptop. Bahkan jujur rasa takut ini selalu bersliweran, lebih dominan daripada ide yang akan saya tulis.

Beberapa jenis ketakutan dalam menulis yang pernah saya alami sebagai berikut.

1. Takut salah

Menulis tentang informasi yang salah, data yang salah, jangan-jangan ini hoax, merupakan ketakutan yang selalu (bukan hanya pernah) saya rasakan setiap menulis.

Solusi : Meyakini bahwa dalam menulis itu, “Salah boleh, yang penting jangan bohong”

2. Takut dicap gak bermutu

Memang sih tulisan itu ada ruhnya. Kalau kalian pembaca tulen, pasti akan merasakan itu. Ada sensasi berbeda yang dibawa penulis satu dengan yang lain.

Solusi : Meyakini bahwa “Jangan terlalu pede tulisanmu dibaca orang, kalau ada yang bilang tulisanmu jelek masih syukur, karena dia baca tulisanmu”.

3. Takut tata bahasa buruk

Ini erat kaitannya dengan pemahaman pembaca. Kalau tata bahasanya buruk, pasti pembaca lari sebelum tuntas membaca.

Solusi : Meyakini bahwa, “Mungkin ilmu menulis saya jauh di bawah ahlinya, tapi saya yakin tulisan saya lebih banyak darinya. Sebab bagi saya yang penting adalah menulis, bukan mempelajarinya”

4. Takut mempublikasikan

Setelah menyelesaikan tulisan, biasanya suka menunda dulu untuk mempublisnya. Atau mungkin berpikir nanti ada ide lagi untuk memperbaiki/menyempurnakan tulisan saya sekarang.

Solusi : Publish sekarang! Karena nanti saya akan membuat artikel baru lagi.

Nah itu saja sebenarnya ketakutan yang sering saya rasakan. Anda pernah mengalaminya juga?
Kalau iya, berarti anda dan saya masih berada pada track yang benar. Saya meyakini itu. Karena dengan masih memiliki ketakutan di atas, kita sebenarnya ingin terus membuat tulisan lebih berkualitas lagi dan lagi. Salam.